[Suho Birthday] Come Back Home – Andelluhan

1463880431726.jpg

ANDELLUHAN’s present

Come Back Home

“Can you come back home?”

 

Kim Junmyeon EXO – Bethany Lee

Kris Wu | Kang Seulgi RED VELVET | Park Chanyeol EXO

Psycho, Sad, Romance PG-15 Oneshot

 

( To uri beloved dollarpapa, Suholkay, Happy birthday!)

 

 

Disclaimer

I own the plot and the original character. I hate the silent reader(s) and copy this story without any credit and/or my own permission is prohibited.

Also read :

[Sehun Birthday] Sympathy of Gravity| [Luhan Birthday] 27th Spring| [Tao Birthday] Hot Chocolate | [Baekhyun Birthday] 01 cm

Andelluhan©2016 || Vanilla Caramello

HAPPY READING

….

 

“Oh, Junmyeon, kau sudah pulang?”

Seulgi langsung senyum kegirangan ketika menjumpai keberadaan Junmyeon di ruang makan mereka. Laki-laki itu langsung melepas dasinya dengan tidak sabaran dan menyambar sang buah hati yang tengah dibiarkan bermain dikelilingi beberapa mainan warna-warni di dekat meja makan sementara Seulgi tengah memasak makan malam mereka.

“Aku baru saja ingin menelponmu untuk segera pulang ke rumah, tapi ternyata kau lebih cepat,” ucap Seulgi sambil memasukkan sejumput bumbu ke dalam sup-nya lalu mematikan kompor. Sejurus kemudian, ia memasukkan sup itu ke dalam mangkuk besar dan meletakkannya di atas meja makan. “Apa pekerjaanmu di perusahaan baru itu menyenangkan?”

Junmyeon mengangguk dan meraih tangan kecil anaknya. “Oh, sup buatan eomma harum sekali. Iya, kan, Mari?” kata Junmyeon ber-monolog ria pada Kim Mari, anak mereka yang begitu tampak mewarisi kecantikkan sang Ibu.

Seulgi tersenyum lalu menata meja makan. Junmyeon berdiri dan menyambangi sang istri yang memakai kaus kebesaran dan celana hitam panjang. Rambut wanita itu disanggul asal-asalan di ubun-ubun dan sejumput rambutnya tampak teruntai di sekitar telinga. Junmyeon yang menjadi gemas, jahil mencoba menciumi leher sang istri.

“Ya, Junmyeon-ah!” kekeh Seulgi yang merasa geli dengan tingkah laku Junmyeon.

Tak kunjung menghentikkan aksinya, Seulgi langsung mencubit lengan pria itu dengan ganas.Tawa pecah di antara keduanya dan Mari hanya melihat heran kedua orangtuanya sambil merangkak untuk meminta perhatian lebih.

 

KIM JUNMYEON

Aku tidak tahu sudah berapa kali jarum jam itu berputar, yang menandakan bahwa sudah lewat pukul delapan malam. Bagaimana aku tidak tergesa-gesa seperti ini? Aku dibesarkan dalam keluarga yang memegang teguh prinsip on time dan menepati janji.

Karena bagi keluargaku, pria yang tidak mampu menepati janji tak ubahnya seperti seorang bajingan.

Ah, lagi-lagi pria di ujung meja rapat sana mendehem―menegurku untuk mengalihkan kembali fokusku padanya dan meninggalkan aktivitasku sedari tadi menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Kuanggukkan kepalaku tanda mengerti dan sejurus kemudian ia membalasnya dengan menatapku sekilas sebelum akhirnya melanjutkan pembicaraannya yang tertunda sejenak. Pria itu lantas kembali memainkan tangannya untuk memperjelas maksud gambar yang ditampilkan proyektor―dan sesekali membenarkan posisi kacamata emasnya yang longgar.

Kulihat semua peserta meeting malam ini sudah menguap berkali-kali. Bahkan Kris Wu yang merupakan anak dari pria menyebalkan itu. Heran sekali melihat Kris yang terkenal dengan gila kerja-nya itu bisa terkantuk-kantuk seperti ini.

Yah, kalian tahu.. Kris adalah satu dari sekian banyak manusia yang sangat suka sekali menghabiskan seluruh waktunya di perusahaan untuk memajukannya―untuk tidak mengatakan agar keluarganya semakin kaya raya dari yang sudah-sudah dan agar namanya dicatat serta dikenang baik oleh Keluarga Wu. Kurasa itu alasan kenapa ia belum memeliki teman perempuan hingga saat ini.

Sayang sekali.

Padahal wajahnya tidak terlalu buruk dan sifatnya yang sedemikian rupalah yang membuat aura hitam menyelubunginya. Tak sedikit wanita yang mengubur keinginannya untuk mendekati Kris. Setidaknya seperti itulah yang dikatakan Bethany padaku beberapa waktu lalu.

Well, kau gelisah” sebuah suara bisikan mengisi runguku. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol yang duduk di sebelahku kananku. Chanyeol meneguk kopi hitamnya yang setelah kulirik tinggal seperempat. Entahlah, kurasa Pria Park yang satu ini benar-benar sudah gila. Ia sudah meghabiskan dua cangkir kopi hitam malam ini.

Mencoba tersenyum dan berbisik ketika Pak Wu menoleh pada layar yang ditampilkan proyektor sana. “Well, aku sudah janji dengan Seulgi akan pulang jam delapan malam.”

Seperti yang kuduga sebelumnya, Chanyeol langsung menahan tawanya. Untung saja kopi yang sedang ia minum tidak tersembur keluar. Membayangkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri akan tatapan tajam atasan kami jika hal itu terjadi.

“Kau membuat janji yang salah, Junmyeon. Seharusnya kau tidak lakukan itu” jawab Chanyeol sambil menyeka ujung bibir dengan jari telunjuknya. Lantas jawaban Chanyeol membuat dahiku berkerut―mungkin aku sekarang tampak lebih tua daripada Pak Wu di ujung sana.

“Tumben sekali,” lanjut Chanyeol dan Pak Wu masih fokus pada dunianya sendiri. Kurasa ini lebih baik. “Dalam rangka apa kau membuat janji bodoh seperti itu?” Chanyeol mencondongkan badannya ke arahku, membuatku refleks menjauhinya. Ini benar-benar menjijikkan. Berteman dengan Baekhyun pasti sudah membuatnya gila.

“Kau pasti tidak lupa kan kalau hari ini ulang tahun pernikahanku yang pertama dengannya,”

Chanyeol membentuk huruf ‘o’ besar dengan bibirnya dan kedua matanya membulat dengan sempurna. Oh, aku benar-benar ingin memukulnya sekarang juga dengan laptopku sekarang juga. Di mataku Chanyeol dan Baekhyun benar-benar menyebalkan, apapun yang mereka lakukan. Padahal mereka sudah bukan remaja labil yang baru saja lulus dari perguruan tinggi.

Oh, handphoneku bergetar. Dan layar menampilkan nama Seulgi.

“Junmyeon, kamu lagi apa? Bisa pulang sekarang, tidak? Makan malam sudah dingin.”

Kalau sudah begini, aku harus pulang.

BETHANY LEE

“Jadi, Junmyeon tidak bisa pulang cepat karena ada pertemuan penting dengan klien-nya, ya?”

Aku tersenyum dan mengangguk pelan―membenarkan kalimat yang lebih mirip pernyataan daripada pertanyaan itu dari Seulgi. Wanita itu kemudian duduk di hadapanku dan memberiku sebotol minuman dingin. Yah, meskipun ini sudah jam sepuluh malam, musim panas benar-benar keterlaluan. Dan minuman hangat tidak lagi masuk dalam daftar minumanku musim ini. Sambil meneguk minumanku, aku melirik meja makan ini yang sudah penuh dengan berbagai jenis masakan. Wah, aku salut sekali dengan Seulgi yang masih mampu memasak dengan kondisi seperti sekarang. Mungkin aku harus belajar sedikit darinya.

“Apa kau yang membuat semua makanan ini, Seulgi?” tanyaku dan dia hanya tersenyum kecil sembari bersandar pada punggung kursi. Aku meletakkan botol minumanku dan mencondongkan badan.

“Dalam rangka apa?” tanyaku lagi.

Seulgi menghela napas. Baju warna kemerahan yang dipakainya cantik sekali. Seolah-olah memberi kesan warna merah pada rambutnya. “Hari ini ulang tahun pernikahan kami yang pertama.”

“Oh benarkah?” Menutupi keterkejutanku, aku lantas meneguk kembali minumanku dengan cepat. Kurasa Seulgi tidak menyadarinya dan malah asik memandang ke luar jendela yang hanya menampilkan langit gelap tanpa bintang. Meskipun begitu, langit malam ini cerah sekali.

“Ngomong-ngomong, terakhir kali kita bertemu, kau tidak tampak chubby.

“Oh, ya? Aku tampak gendutan, ya? Wah, berarti Junmyeon selalu bohong setiap kali aku tanya apa aku tampak lebih gendut atau tidak,” Seulgi tertawa.

Aku kembali menatap Seulgi. Dan saat itu pula aku merasa seperti sebuah tangan raksasa memeras hatiku sedemikian rupa. Rasanya perih. Apa yang harus kulakukan? Oh, seharusnya bukan hari ini. Aku bukan tipe wanita yang tega merusak kebahagiaan orang lain. Menyaksikannya seperti ini, kupikir Junmyeon adalah pria paling brengsek yang tega meninggalkan istrinya seorang diri menunggunya hingga selarut ini hanya untuk merayakan acara ulang tahun pernikahan mereka meskipun dengan makan malam sederhana.

Tapi Seulgi membuatku menggelengkan kepala. Maksudku.. bagaimana bisa dengan keadaan seperti ini dia masih mampu memasak makanan sebanyak ini? Tak cukup dengan itu, ia juga masih setia menunggu Junmyeon hingga selarut ini. Seharusnya Junmyeon lebih banyak datang ke gereja untuk keberkahan yang Tuhan berikan padanya.

Istri yang cantik dan sabar seperti Seulgi. Oh, dengan kepribadian baik.

Aku jadi kasihan.

Hal yang tak akan pernah Kris dapatkan, menurutku, dengan sikapnya yang seperti itu.

“Beth, telpon genggammu berbunyi,” suara Seulgi menyadarkanku. Telpon genggam yang kuletakkan di samping botol minumanku itu entah sejak kapan telah meraung dan menampilkan sebuah nama pada layar yang membuatku malas sekali menatapnya. Tak lama kemudian, sang penelpon itu langsung menghentikan panggilannya sendiri.

“Siapa? Kenapa tidak diangkat?” tanya Seulgi.

“Ah, itu, hanya nomor tak dikenal, kok. Tak perlu dipikirkan seperti itu, ” jawabku. Kurasa Ibuku benar, aku adalah si ahli berkilah. Kulihat Seulgi tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Memahami keadaan.

“Ah, Seulgi? Apa aku boleh meminjam kamar kecil?” tanyaku sambil mencondongkan badan. Kurasa minuman dingin itu membuat kantung kemihku penuh.

Seulgi mengedipkan kedua matanya. Aku benar-benar iri dengan mata Seulgi. Dan itu tampak seperti cairan yang jernih sekali.

“Oh, tentu saja, Beth. Kamar kecilnya ada di…”

“Maaf, bisa kau mengantarku? Aku… agak sedikit takut,” selaku.

Yah, rumah ini sedikit menonjolkan ketakutan untukku. Meskipun terletak di pusat kota dan dekat sekali dengan beberapa tempat penting seperti mall, kafe, dan bahkan kantor polisi dan rumah sakit terkenal. Kurasa kalau Seulgi tiba-tiba akan melahirkan, Junmyeon tak akan mengalami kepanikan yang berlebih dengan jarak rumah mereka yang seperti ini. Kurasa aku harus mencari rumah yang juga stategis seperti ini kalau sudah menikah nanti.

“Oh baiklah. Ayo,”

Ah, aku lupa botol wine-nya.

KRIS WU

Aku bukan tipe atasan perusahaan yang suka sekali menyiksa para bawahanku dengan berbagai macam pekerjaan yang aku yakin pasti membuat mereka depresi seorang diri. Kurasa berada sepanjang hari di kantor sudah cukup untuk mereka, bukan? Tapi tentu aku hanya menerima orang-orang yang serius dan kompeten saja untuk bergabung dalam perusahaan kami.

Dan Junmyeon adalah salah satu karyawan favoritku.

Aku tahu dia mempunyai skill yang bagus sekali sejak pertama kali menerima CV-nya dua tahun yang lalu. Bahkan aku tak pernah sebaik ini pada karyawan lain. Kurasa tahun depan aku bisa mengangkatnya sebagai tangan kananku. Rencanaku ini bukannya tak beralasan. Sejak Junmyeon bekerja di tempat kami, segalanya berubah menjadi lebih baik, begitupun nama perusahaan. Bahkan aku menangkap suasana kantor yang menjadi lebih bersahabat karena ia mampu berbaur dengan baik tanpa meninggalkan efisiensi kerjanya.

Di perusahaan kami, terdapat sebuah sistem pemilihan karyawan terbaik setiap bulannya. Dan Junmyeon seringkali mengisi posisi itu. Memang tidak salah. Dia benar-benar berbakat. Selain mendapat predikat itu, karyawan terpilih akan mendapatkan bonus akhir bulan mereka. Aku tahu banyak karyawan yang iri pada Junmyeon akan hal itu.

Dan tahun lalu, Junmyeon akhirnya meninggalkan masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis  yang cantik, sangat cantik malah. Orang bilang, sifat seseorang akan berubah ketika ia telah menikah. Kurasa itu benar.

Junmyeon berubah.

Semenjak menikah, dia jarang sekali menjadi karyawan terbaik bulanan lagi. Dan kurasa itu membuat karyawan yang lain menjadi sedikit senang. Biasanya, Junmyeon termasuk salah satu karyawan yang sering pulang larut demi menyelesaikan tanggung jawab pekerjaannya. Dan sekarang? Oh, bahkan jika kutilik, jarang sekali aku menangkap meja kerja Junmyeon yang berserakan pada jam sepuluh malam. Juga semangat kerjanya sedikit menurun karena ia sering sekali menyelesaikan pekerjaannya tepat saat deadlinepadahal biasanya beberapa hari lebih cepat daripada itu.

“Maaf, Pak. Bisakah saya pulang sekarang?” tanya Junmyeon yang sudah ada di dekatku. Diam-diam berpindah tempat seperti ini saat sedang meeting sangat tidak disukai Ayahku. Junmyeon mendehem. Menunggu jawaban.

“Kenapa?”

“Istri saya menelpon. Anda tahu kan kalau dia sedang hamil dan ini sudah larut malam. Saya sudah janji padanya akan pulang cepat malam ini tapi ternyata… tidak bisa.”

Aku tertegun. Selang beberapa detik kemudian, aku mengangguk dan saat itu pula Junmyeon tersenyum lebar. Ia lalu membungkuk dan mengucapkan terimakasih berkali-kali padaku sebelum kembali ke kursinya dan membuat temannya, Park Chanyeol, yang duduk di sampingnya terheran-heran kenapa ia merapihkan mejanya dan kemudian keluar dari ruangan.

Istrinya menelpon.

Kalau begitu, aku juga harus menelpon Bethany.

PARK CHANYEOL

Seperti biasanya, aku terlambat.

Mungkin ini salah satu dari sekian banyak alasan mengapa aku tidak pernah menjadi karyawan terbaik bulanan seperti Junmyeon.

Ngomong-ngomong soal Junmyeon, kemana laki-laki itu?

Sama-sama bergabung dengan perusahaan keluarga Wu dua tahun lalu, aku tahu sekali bahwa Junmyeon bukan orang yang suka terlambat dan mengulur waktunya seperti Baekhyun. Kantor sudah sesak dengan suara ketikan komputer, printer dan suara telpon kantor yang bergering namun meja Junmyeon masih saja mati.

Baiklah, mungkin kalau itu adalah Baekhyun, aku tak akan mempermasalahkannya sebab tadi malam selepas meeting yang berlangsung hingga larut malam, laki-laki itu mengajakku ke sebuah klub malam langganannya. Gila. Dia benar-benar sudah tidak waras, kan? Dan mungkin saja sampai saat ini dia masih tertidur di sana dengan berbotol-botol alkohol di sekelilingnya. Menggelikan. Kurasa sebentar lagi ia akan dipecat oleh Kris Wu.

Ya, Chanyeol-ah!”

Oh, Baekhyun? Kupikir kau masih tertidur di klub malam kesayanganmu itu dan tak akan kerja hari ini,” Aku mengelus puncak kepalaku yang menjadi korban pukulan Baekhyun dengan sebuah buku tebal entah milik siapa karena aku tahu bahwa Baekhyun sangat anti-membaca. “Ah, ngomong-ngomong kau melihat Junmyeon? Dia tidak pernah datang sesiang ini sebelumnya”

Baekhyun menampakkan ekspresi datar. Ia menelan salivanya. Kurasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Chanyeol, kau tidak tahu?”

“Tidak tahu apa?”

Baekhyun menghela napasnya. “Ehm, Junmyeon.. dia.. istrinya.. kemarin malam.. dibunuh.. dan…”

“Hei, Baek, sebaiknya jangan berbicara jika kau sedang ada di bawah pengaruh alkohol,”

“Ini serius, brengsek! Istrinya dibunuh saat Junmyeon baru saja pulang dari kantor. Padahal kemarin malam adalah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama dan istrinya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka” kata Baekhyun dengan nafas yang memburu. “Kau.. tidak melihatnya di televisi?”

Oh, kurasa aku akan memecahkan bola kristal di dalam mataku.

BETHANY LEE

Aku menarik selimut sewarna bulu angsa itu untuk menutupi sebagian wajahku ketika sebuah acara berita televisi menampilkan beberapa petugas dari kepolisian membawa jenazah Seulgi dari dalam rumahnya. Oh, hari sudah sesiang ini dan aku masih di sini, duduk meringkuk di atas sofa dengan selimut sedari tadi. Tirai jendela lupa kubuka sehingga aku yakin sekali bahwa di luar sana sudah terik sekali.

“Kau yang terbaik, Sayang,”

Tak perlu menoleh, aku tahu itu suara Kris. Aku bisa merasakan ia sekarang tengah berjalan ke arahku kemudian duduk di sebelahku dan merangkulku dengan tangan kirinya yang kokoh. Bahkan untuk bertandang ke rumahku, Kris tidak pernah absen memakai baju kantornya. Ini sungguh membosankan melihatnya selalu mengenakan baju kantor itu; pagi, siang, malam.

“Terimakasih, Kris” balasku dan disambut dengan sebuah usakan kecil di puncak kepalaku. “Tapi aku merasa… well, bersalah.”

Kris menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?”

“Kemarin ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Dan aku juga.. membunuh calon bayi mereka yang tak berdosa itu, Kris. Aku merasa aku sangat.. kotor.”

“Oh, ya, Sayang, kau memang gadis yang kotor.

“Kris! Jangan melantur! Itu tidak lucu sama sekali,”

Laki-laki ini benar-benar menyebalkan sekali dan kerap kali membuatku marah. Tapi anehnya tubuhku sekarang malah bergerak mendekatinya untuk kemudian menyandarkan kepalaku pada bahunya yang lebar. Ini sungguh nyaman dan tak ada yang menandingi.

“Jadi, bagaimana setelah ini?”

Pertanyaan Kris membuatku tersentak. Posisiku tidak sepenuhnya aman.

Para polisi brengsek itu tentu tak akan membiarkan orang yang telah membunuh gadis secantik Seulgi dengan cara merobek tubuh dan menancapkan pecahan botol wine di perut membuncit wanita itu untuk lari dengan mudah.

“Kurasa Dubai akan menjadi tempat yang sempurna. Tak akan ada yang mencurigaimu di sana, of course,” kata Kris sambil membenarkan posisinya menjadi sedikit lebih rileks. “Aku akan menyiapkan semua dokumen yang kau perlukan. Jam tiga nanti kau hanya tinggal berangkat saja dan…”

“Hei, Kris,” selaku sebelum Kris sempat menyelesaikan kalimat bodohnya. “Aku akan tetap di Korea.”

“Kau mau cari mati, ya?” ucap Kris sinis. Kurasa kematianku kelak tak akan berpengaruh dalam hidup Kris. Oh, tentu saja! Hanya perusahaannya lah yang mempengaruhinya―memegang hidup dan matinya. Bodoh sekali.

“A.. aku hanya tidak tega meninggalkan keluargaku, terutama eomma-ku.”

“Kau perempuan cengeng.”

Aku mengangkat kedua bahuku. Terserah Kris mau berkata apa, yang jelas aku tetap ingin stay di Korea. Karena tidak ada alasan bagiku untuk pergi meninggalkan Korea; masih ada Junmyeon dan aku masih mencintainya.

Meskipun ia menolak perasaanku.

Dan kalimat itu masih terngiang jelas di ingatanku.

Tapi, meskipun Kris merangkulku sehangat ini, aku tetap mencintai Junmyeon.

“Jadi, bagaimana?”

“Terimakasih sudah menghilangkan Bethany. Aku menyayangimu.”

Sebuah senyum lalu mengembang seperti bunga yang sedang merekah di musim semi.

“Terimakasih kembali.”

Kris Wu. Dia boleh saja adalah seorang atasan perusahaan yang sukses besar, yang namanya dikenal dimana-mana dan banyak investor yang ingin menanamkan modal di perusahaannya. Dia boleh saja adalah salah satu pengusaha muda paling menonjol yang kemampuannya tak perlu diragukan lagi.

Tapi, kalian tahu, langit tidak menciptakan manusia dengan begitu sempurnanya. Dan Pria Wu itu terlalu bodoh untuk dipermainkan. Ia pikir, aku akan berakhir dengan menyedihkan di Korea ini.  Salah. Dia salah besar. Karena dialah yang akan berakhir.

Kris terlalu bodoh untuk menyadari bahwa aku mencintai Junmyeon. Amat mencintainya.

Kris terlalu bodoh untuk tahu bahwa aku…

Meninggalkan sampel dirinya pada Seulgi.

“Aku mencintaimu, Kris.”

KIM JUNMYEON

Kantor menjadi agak tidak bersahabat semenjak publik tahu bahwa Kris Wu-lah yang menjadi dalang dari pembunuhan Seulgi malam itu. Chanyeol dan Baekhyun, dua orang yang selalu membicarakan ini padaku dan selalu berkata bahwa aku harus lebih hati-hati lagi. Sangat tidak disangka, bukan? Atasanmu membunuh istrimu sendiri. Sebenarnya ini menggelikan ketika semua karyawan melihatku dengan sorot mata yang tidak bisa aku artikan.

Dan, Pak Wu, ayah Kris, secara pribadi meminta maaf atas apa yang telah dilakukan anaknya itu. Ini berita besar, tentu saja. Aku hanya takut perusahaan yang sudah susah-payah Kris bangun ini menjadi bangkrut karena skandal ini. Oh, apa aku harus segera mencari pekerjaan di perusahaan baru? Kudengar bekerja di bidang properti sedang menguntungkan dewasa ini.

“Junmyeon..” Suara itu menghentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Seorang gadis dengan rambut keemasan menyapaku. Dan sosok itu tak pernah hilang dari kelopak mataku. Bethany Lee. Nama yang selalu aku ingat. Gadis yang pernah mengungkapkan perasaannya padaku. “Aku.. aku turut berduka cita atas kematian Seulgi. Dan kenyataan bahwa Kris lah yang membunuhnya…”

“Beth,” potongku. “Mari bicara sebentar,”

Lima menit berlalu dan kami sudah berada di atap gedung kantor bergengsi ini. Dari atas sini, Seoul benar-benar tampak hidup. Aku bisa melihat lautan manusia yang seperti semut sedang mencari makanan di bawah sana.

“Ada apa, Junmyeon?”

Aku menghela napas dan membuangnya sejenak, kemudian menoleh pada sosok Bethany yang telah berdiri di sampingku dengan rambut keemasannya yang tertiup angin.

“Aku, tahu.. kau kan yang membunuh Seulgi?” tanyaku dan kulihat raut wajah Bethany jelas menunjukkan bahwa ia benar-benar terkejut akan hal itu. “Dan Kris yang menyuruhmu. Kau berkhianat dengan cara menempelkan sampel Kris pada tubuh Seulgi lalu menghilangkan segala jejakmu.”

Bethany memegang tengkuknya dengan tangan kanan, tertawa getir. “A-apa yang sedang kau bicarakan, Junmyeon? Aku tahu kau pasti terpukul dengan kejadian itu tapi…”

“Aku tahu,” jawabku dengan suara yang hampir tertelan oleh hembusan angin di atas sini. “Kau tak perlu menutupinya, Bethany,”

“Jadi, darimana kau tahu?”

“Aku, melihatnya,” kataku mengakui. “Ya, aku melihatmu membunuhnya. Aku ada di luar sana ketika kau membunuh Seulgi. Aku melihatnya dari luar jendela ruang makan kami.”

Bethany semakin terkejut dengan pernyataanku. Matanya membulat dan itu membuatku benar-benar gemas.

“Tapi, Bethany… terimakasih,”

Mwo?!”

“Terimakasih, sudah membunuh Seulgi. Aku.. aku benar-benar ingin melakukannya tapi ternyata kau mendahuluiku. Aku tidak bisa hidup bersamanya lagi dan belakangan kami selalu menempuh jalan yang berbeda.”

Bethany terdiam dan mengamatiku. Ia mengigit bibirnya yang sewarna merah jambu. Kulihat kedua bola matanya berkaca-kaca. Entah apa yang  perlu ia tangiskan saat ini. Aku tersenyum lalu meraih bahunya dan membawa gadis itu ke rengkuhanku. Gadis yang membuatku tidak bisa tidur semalaman.

“Aku.. mencintaimu, Beth,”

AUTHOR POV

Pemandangan di atap gedung kantor itu begitu mencolok, jika saja seseorang dari bawah sana bisa meliatnya dengan jelas. Di sana, Junmyeon tengah memeluk Bethany. Tangan kanan laki-laki itu sibuk membelai surai keemasan Bethany. Dan Bethany terbawa arus hangat di dada bidang Junmyeon.

“Aku.. mencintaimu, Beth,”

Ada gembira dalam diri Bethany setelah Junmyeon mengatakan hal itu. Sungguh? Benarkah? Apa Junmyeon telah berubah pikiran untuk menyukainya setelah dulu laki-laki itu menolak perasaannya?  Bethany benar-benar senang hingga rasanya lupa bagaimana caranya untuk bernapas.

“Junmyeon?”

“Hm?”

Tidak beres.

Ya, Junmyeon!”

“Kenapa, Sayang?”

“Hentikan!”

Jumyeon membawa tubuh mereka yang masih menyatu itu ke pinggir atap. Bethany yang sedikit mengalami ketakutan akan ketinggian memekik memohon pada Junmyeon untuk tidak mengambil langkah lebih banyak lagi.

“Junmyeon! Apa kau gila?”

Suara tawa Junmyeon pecah. “Ya, aku gila. Aku gila karenamu! Kamu! Karena kamu telah membunuh Seulgi dan calon anakku yang tidak bersalah itu! Bangsat kamu!” kata Junmyeon berapi-api. Dan setelahnya, Junmyeon melepas pelukan mereka. Sangat mudah melempar tubuh langsing Bethany ke bawah sana. Sementara Junmyeon melepas gembiarnya, Bethany memekik dan tangannya meminta diraih seolah Junmyeon bisa diajak kompromi untuk hal itu. Terlambat, tubuh gadis itu telah lebih dulu terbang dan memeluk angin. Beberapa sekon selanjutnya, suara sesuatu yang pecah dan remuk langsung menggema dalam telinga Junmyeon. Di bawah sana, tubuh Bethany seperti dimandikan saus tomat.

“Seulgi-ah?”

Junmyeon menyeka air matanya. Dan berjalan menuju sudut atap, tempat Seulgi berdiri dengan senyuman termanis miliknya. Kedua tangan gadis itu sedang mengelus perut buncitnya dengan sayang. Mengundang Junmyeon untuk datang bergabung dengan mereka, menikmati semilir angin.

“Seulgi-ah, aku sudah membunuh Bethany. Kau senang?” Junmyeon merangkul Seulgi. Namun gadis itu menjauh. Seperti takut akan ketularan virus jika dekat dengan suaminya itu.

“Seulgi­-ah? K-kau marah padaku karena malam itu aku pulang telat? Mianhae, Seulgi-ah,

Seulgi tetap menjauh dari Junmyeon. Sementara suara pintu yang terus-terusan dibuka paksa dari dalam semakin membesar dan memekakkan telinga. Namun Junmyeon tidak peduli.

“Pergilah, Junmyeon. Jangan ganggu kami,”

“Seulgi-ah, aku mencintaimu, aku…”

Brak!

Seseorang berhasil mendobrak pintu dan ketika itu pula, tubuh Junmyeon melayang bebas menuju permukaan bumi. Mengikuti bayang Seulgi yang terlebih dahulu berlabuh.

Bukankah warna merah terlihat begitu hidup dengan kulit putih milik Junmyeon?

F   I   N

ANDELL’s NOTE :

HAPPY SUHO DAY! HAPPY DOLLARPAPA DAY! HAPPY EXO LEADER DAY!  HAPPY HOLKAY DAY! HAPPY KIM JUNMYEON DAY!

Karena papa hari ini ultah, Andell membuat Special Birthday yang BENER-BENER ISTIMEWA DAN BERBEDA untuk papah tertjintah muah muah karena member lain pada ficlet, khusus pada oneshot. Yang lain pada fluff, romens, hurt, angst, comfort dan seputar tjinta, khusus papa agak lebih ada action-nya biar ISTIMEWA KEK CERIBEL.

Pokoknya semoga papa tambah ganteng, suaranya tambah ayem, makin ketjeh, makin gud gud gud dalam memimpin ekso, makin diberikan Yang Maha Kuasa kekuatan untuk mengurus anak-anak bandel apalagi kayak si chanbaek/? dan semoga gak cepet tua. Semoga Andell yang berstatus sebagai menantu papa bisa ketularan berlian kebaikkan yang ada pada papa. Semoga papa semakin merestui hubungan Andell dengan Sehun /dibunuh readers/

Btw, maaf kalo fict ini absurd banget karena aku belum pengalaman bikin yang kek ginian mweheh. SEKALI LAGI HEPI SUHO DEI! PENUH LOP LOP SHY SHY SHY❤❤❤❤

Regards,

Andelluhan❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s