[Oneshot] White Chocolate – Andelluhan

mingyu-kim.jpg

Storyline by: Andelluhan

Cast: Kim Mingyu, Jeon Wonwoo, Hong Jisoo/Joshua (SEVENTEEN) & Park Nayeon(OC) | Genre: Friendship, School-Life & One sided love | Rating: G | Length: Oneshot

DISCLAIMER:

The story is real from my―crazy―imagination. Don’t be a plagiat, and no bash!

There’s no element of plagiarism in this story.

 

Untuk pertama kalinya, Mingyu yang terkenal cool dan tidak pernah peduli dengan apapun di sekelilingnya, diam seribu bahasa dengan pandangan mata terpana.

.

.

.

Ini minggu pertama masuk sekolah. Setelah menjalani liburan yang amat panjang, tentu hawa liburan masih menyelimuti seluruh wajah anak-anak sekolah. Terutama Kim Mingyu. Dari wajahnya, sudah bisa dipastikan kalau anak lelaki itu sangat tidak mau untuk kembali menjalani rutinitasnya sebagai pelajar SMA. Ia masih ingin bermesraan dengan kasur dan bantal gulingnya yang lembut. Biasanya ia akan bangun sesuka hatinya. Namun kini, mau tidak mau ia harus bangun dan menyiapkan ini itu sebelum sekolah dimulai jam 8 pagi.

Mingyu memantul-mantulkan bola basket di hadapannya dengan asal-asalan. Seragam sekolah yang lelaki itu gunakan sudah berantakan. Tapi itu malah membuatnya terlihat keren dan disukai banyak anak gadis di SMA-nya kini.

“Apa yang kau lakukan di tengah lapangan ini sendirian, Kim Mingyu?”

Seorang lelaki lain berambut warna hitam legam dengan seragam yang tak kalah berantakannya dengan Mingyu mendekat lalu duduk di sampingnya.

“Aku sedang bosan bahkan hanya untuk duduk diam di dalam kelas.”

Wonwoo terkekeh pelan. Ia mengamati lapangan yang ada di depan mereka kini. Ia mengerti kalau Mingyu bertingkah seperti itu hari ini. Sudah biasa…

“Sudah berapa lama kau di sini? Kau tidak makan siang?”

“Aku bahkan bosan dengan semua makanan yang ada di sana.”

Bel tanda masuk kelas berbunyi. Nyaring sekali. Wonwoo langsung mendongak ke arah gedung yang ada di belakangnya dengan tatapan datar sementara Mingyu malah semakin asal-asalan memantulkan bola basket.

Ya, Kim Mingyu! Ayo!” kata Wonwoo sambil berdiri.

“Kau saja.”

“Eh, kau ini benar-benar bodoh ya? Ini jam matematika. Kau mau kena amuk Choi Seonsaeng?”

Mingyu berdecak kesal lalu melempar bola basket yang sedari tadi jadi mainannya lurus ke arah depan dengan kecepatan tinggi.

“Ayo,” kata Mingyu sambil berdiri dan berniat beranjak dari lapangan itu secepat mungkin. Ia tidak mau jadi bahan sasaran si guru muda bernama Choi Seungcheol itu. Cukup sudah. Penderitaannya tidak boleh bertambah dengan kata-kata yang bisa membuat seisi kelas jadi beku dari bibir Choi Seonsaeng yang terkenal tampan tapi galak di kalangan gadis penggosip itu.

Bruk!

“Akh!”

Mingyu dan Wonwoo langsung menoleh ke arah belakang mereka ketika mendengar suara seseorang yang merintih kesakitan. Kedua lelaki itu mendadak berkeringat dingin mendapati seorang gadis terduduk di lapangan itu sambil memegangi kepalanya sementara bola basket tergeletak di dekat kakinya. Sedikit memantul ke sana-kemari

“Mingyu, kau yang melempar basket itu kepadanya?” tanya Wonwoo cemas.

“Tapi tadi jelas-jelas gadis itu tidak ada di sini, kan?”

“Mana kutahu!”

Mingyu menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana ini?

YA, KALIAN! TUNGGU DULU!”

Gadis di ujung lapangan itu bangkit dan berjalan dengan cepat ke arah kedua sahabat yang diam mematung itu. Wajahnya memerah dengan rambut coklat terang yang sedikit berantakkan.

“KALIAN YANG MELEMPAR BOLA BASKET ITU, HUH?!” gertak gadis itu ketika sudah berada di depan Wonwoo dan Mingyu.

“Maaf, bukan aku. Tapi dia, si Kim Mingyu,” kata Wonwoo sembari mendorong Mingyu sehingga menjadi sedikit lebih dekat dengan korban lemparan bola basket itu.

Hah, inilah Jeon Wonwoo. Selalu saja berkata jujur dengan terlalu cepat dan membiarkan Mingyu sendirian menghadapi sebuah masalah.

“OH? KAU? YA! APA KAU TIDAK LIHAT BAGAIMANA BOLA ITU MENGENAI KEPALAKU? APA KAU TAHU BAGAIMANA RASANYA?”

Gadis itu kembali mengusap keningnya yang memerah karena terkena lemparan maut Mingyu, mendesah kesakitan lalu menghentakkan kakinya seperti seorang anak kecil yang tengah menahan tangisannya.

Mingyu menahan napas dan mengepalkan kedua tangannya.

Ya, kau harus minta maaf padaku sekarang!” ucap gadis itu dengan nada bicara yang sedikit lebih ‘ramah’ dibandingkan yang tadi.

Wajah gadis itu mendongak dan menatap Mingyu: menunggu ucapan permintaan keluar meluncur dari tenggorokan lelaki itu. Tapi percuma saja. Mingyu tetap diam seribu bahasa. Seakan enggan untuk mengatakan maaf padanya.

“Minta maaf saja sana. Lihat, aku masih setia bersamamu di sini. Seharusnya tadi aku langsung lari saja ke kelas―karena itu jelas-jelas bukan salahku. Pasti Choi Seonsaeng sudah ada di kelas dan bertanya-tanya tentang kita sekarang,” bisik Wonwoo memperingatkan setelah beberapa kali menyenggol lengan Mingyu.

YA! KAU TIDAK MAU MINTA MAAF?!”

Untuk pertama kalinya, Mingyu yang terkenal cool dan tidak pernah peduli dengan apapun di sekelilingnya, diam seribu bahasa dengan pandangan mata terpana.

0o0

“Lagi-lagi kita singgah di sini. Mau beli apa? Coklat putih lagi?”

Jeon Wonwoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Mingyu tidak merespon pertanyaannya dan sibuk melihat-lihat tumpukan coklat di toko yang baru saja mereka masuki berdua. Toko masih sepi karena ini masih pagi. Jam di mana anak-anak pergi ke sekolah. Begitu juga dengan mereka. Hanya saja mereka singgah sebentar di toko ini.

Bukan singgah biasa. Mereka singgah hampir setiap hari ke toko ini hanya untuk membeli coklat putih. Bukan mereka berdua, hanya Kim Mingyu seorang. Dan sahabatnya, Wonwoo, hanya akan diam dan mengamati Mingyu dari mulai proses pemilihan coklat hingga pembayaran ke meja kasir.

“Selalu saja.. coklat putih yang sama untuk gadis yang sama. Aku pikir gadis itu akan muak dengan semua coklat putih yang kau berikan hampir setiap hari..”

Mingyu menoleh seketika dengan wajahnya yang berubah menjadi lebih terkesan idiot. “Apa yang kau katakan barusan? Gadis itu akan muak dengan semua coklat putih yang kuberikan?”

“Ah, tidak. Maksudku pasti gadis itu sangat senang dengan semua coklat putihnya!”

Wonwoo tidak mau merusak mood bagus sahabatnya itu. Jatuh cinta telah membuat Mingyu benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dan tentu lebih disukai karena imej-nya yang ceria seperti bocah lima tahun akhir-akhir ini.

Yap, Mingyu tengah mengincar salah satu anak gadis di sekolah mereka. Gadis itu kelas 2-3. Dan itu tepat di sebelah kelas mereka. Dari informasi yang mereka dapatkan, gadis itu sangat menyukai coklat putih. Jadilah Mingyu setiap hari membelikan gadis pujaan hatinya itu coklat putih beraneka rupa dan bentuk.

“Wonwoo, ayo!” kata Mingyu sambil membawa sebuah bungkusan warna biru tua yang tentu saja berisi sebatang coklat putih. Lelaki itu tersenyum-senyum sendiri setelahnya.

“Kau akan meletakkannya di loker Nayeon lagi?”

Mingyu menghela napas sambil menatap matahari yang ada di atasnya. Dadanya penuh dengan kegusaran. “Apa lagi yang bisa aku lakukan selain itu?”

“Aku cukup terkejut melihat kau menjadi begitu manis kalau sudah berurusan dengan Park Nayeon. Mana Kim Mingyu yang dikenal keren dengan sikap dinginnya itu? Kau bahkan melupakanku demi gadis bergigi kelinci itu!” keluh Wonwoo dengan wajah ditekuk.

“Ah, tentu saja tidak, sahabatku! Kau akan tetap ada di dalam jiwaku selamanya,” jawab Mingyu dengan gaya seperti berpidato di tengah khalayak umum.

Wonwoo tertawa terbahak-bahak dibuatnya. Mingyu selalu mempunyai kepribadian ganda kalau sudah bersama Wonwoo.

Kedua sahabat itu melanjutkan langkah mereka menuju Pledis High School, tempat mereka bersekolah. Mereka sangat akrab, hingga rasanya tidak ada lagi persahabatan yang lebih manis dari persahabatan mereka. Mingyu dan Wonwoo sudah bersahabat sejak mereka berumur delapan tahun. Dan itu berlanjut hingga umur mereka sekarang 18 tahun. Mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama dan mendapat kelas yang sama: entah itu kebetulan atau tidak. Keduanya juga menjadi idola di sekolah mereka karena wajah tampan yang mereka miliki. Selain itu juga karena keduanya sangat mahir dalam bidang olahraga.

Wonwoo terkesiap dan menepuk pundak Mingyu dengan keras hingga lelaki itu sedikit terdorong ke depan.

“Kau ini kenapa? Jangan jadi gila dulu. Ini masih di sekolah. Ada reputasi yang harus aku jaga, Wonwoo!” kata Mingyu kesal.

Ya, tentu saja. Mingyu harus selalu tampil cool dan good-looking di depan semua penduduk Pledis High School. Termasuk juga para janitor mereka. Dan yang paling utama tentu saja kumpulan para gadis yang suka sekali meneriakan namanya.

Ya, Kim Mingyu! Coba lihat di sana! Lihat siapa gadis yang keluar dari dalam mobil sedan hitam mengkilap itu!”

Mingyu memincingkan mata dan menelusuri arah yang ditunjuk Wonwoo dengan ujung jari telunjuknya. Seketika wajah Mingyu menjadi seperti udang rebus setelah menemukan gadis berambut coklat terang pujaan hatinya itu. Nayeon baru saja keluar dari sebuah mobil sedan warna hitam dan menyampirkan tas oranye di punggung. Kemudian, dua orang teman perempuan Nayeon yang sangat Mingyu hapal wajahnya menyapa gadis itu dan berjalan bersama sembari cekikikan.

Ya, apa yang kau lakukan? Sana, cepat berikan coklatnya! Coba sekali-kali berikan coklat itu secara langsung pada Nayeon,” kata Wonwoo.

Tak ada kalimat jawaban yang keluar dari mulut Mingyu. Karena lelaki bermarga Kim itu langsung lari menuju kelasnya yang ada di lantai atas, meninggalkan Wonwoo yang tertawa karena tingkah konyol sahabatnya pagi ini.

0o0

Satu coklat putih baru lagi pagi ini.

Pemandangan yang biasa setiap kali Park Nayeon membuka lokernya belakangan ini. Nayeon langsung memasukan beberapa buku ke dalam loker itu dan kembali menutupnya. Tanpa basa-basi, ia langsung berjalan meninggalkan loker menuju tempat duduknya yang ada di bagian tengah.

Namun gadis itu menghentikan langkahnya, bergeming sebentar lalu berbalik lagi ke arah loker dan membukanya kembali. Tangannya meraih coklat putih memanjang yang ada di dalam lokernya.

Siapa kira-kira yang selalu menaruh coklat putih kesukaannya di dalam lokernya? Dan apa yang dipikirkan si pengirim? Apa si pengirim mau membuatnya menjadi gendut dengan terus-terusan mengiriminya coklat putih? Hah, menyebalkan. Tapi dia tidak bisa menolak coklat putih yang dikirimkan orang yang mungkin sok misterius itu dan ia malas menyelidikinya.

Coklat putih adalah sebagian dari hidupnya.

“Siapa lagi yang mengirimu coklat itu, Park Nayeon?” tanya Kwon Sunyoung ketika akan membuka lokernya yang kebetulan bersebelahan dengan loker gadis itu.

“Entahlah. Ya, Sunyoung, menurutmu siapa? Kau punya banyak kenalan di sekolah ini, kan? Siapa tahu pengirimnya salah satu di antara kumpulanmu itu!”

“Tidak ada yang mau repot-repot membelikan coklat dan meletakkannya di dalam loker setiap hari untuk seorang gadis yang kasar sepertimu Nayeon.” Sunyoung terkekeh dengan menunjukkan matanya yang seperti jarum jam.

Ya!

Nayeon memanyunkan mulutnya dan itu membuat Sunyoung semakin tertawa dengan keras.

Ya, Kwon Sunyoung!”

Nayeon dan Sunyoung menoleh ke arah pintu kelas mereka. Di sana, lima orang anak lelaki yang tergabung dalam klub basket sekolah mereka berdiri dengan seperti model majalah yang akan melakukan pemotretan. Beberapa gadis tampak mengerumuni mereka.

“Wae?” tanya Sunyoung sambil menutup lokernya dengan satu gerakan.

“Ada yang perlu dibicarakan bersama anak-anak lainnya. Ayo!” jawab Yoon Jeunghan sambil menyelipkan rambutnya di belakang telinga. Dengan rambut sebahu yang dimilikinya, pemuda itu terlihat cantik, bukannya tampan.

“Ah, baiklah..” jawab Sunyoung seperti tidak terima. “Eh, Nayeon. Aku pergi dulu dengan mereka, ya. Aku akan berusaha mencari tahu siapa si pengirim misterius itu.”

Nayeon menatap punggung Sunyoung yang berjalan dengan santai ke arah teman-temannya dan sebuah kalimat hinggap di kepalanya: Sunyoung benar-benar teman yang baik.

Sementara dari luar kelas 2-3, Mingyu mendongak ke dalam kelas. Mencari-cari si cantik Park Nayeon. Ketika menulusuri bagian belakang kelas, mata mereka bertemu. Nayeon tengah berada di depan lokernya yang terbuka lebar hingga Mingyu bisa melihat dengan jelas sebatang coklat putih yang ada di dalamnya.

Mingyu buru-buru mengalihkan pandangannya. Nayeon sepertinya selalu mengingat wajah Mingyu setelah insiden lemparan bola basket maut itu. Oh, Tuhan! Kenapa atmosfer mendadak berubah menjadi panas?

Ya, Mingyu! Ayo!” kata Seokmin yang sudah berjalan beberapa langkah dari depan kelas 2-3, mengikuti teman-teman basketnya yang lain.

Mingyu tersadar dan langsung menyusul Seokmin. Namun ketika akan pergi menyusul Sunyong, sebuah suara yang amat dikenalnya memanggil dengan nada suara yang sangat lembut.

“Kim Mingyu!”

Yang bernama Kim Mingyu menoleh ke belakang dan mendapat Nayeon tengah berdiri sembari tersenyum ke arahnya. Astaga! Mingyu bisa merasakan jantungnya akan meloncat keluar kali ini.

“Aku mendapatkan banyak sekali coklat putih akhir-akhir ini. Ini untukmu, sebagai tanda minta maafku. Kamu tidak sengaja melempar bola basket waktu itu, kan? Lagipula kau melempar saat tidak ada orang, dan aku muncul secara tiba-tiba. Maaf aku terlalu cepat marah”

Nayeon tersenyum dan memberinya sebatang coklat putih. Dan itu sontak membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat.

“Eh? Benarkah ini untukku? Apa tidak apa-apa?”

“Ambilah saja. Pemberian si misterius itu sudah banyak sekali, masih banyak yang belum aku makan dan aku banyak memberikannya pada adik dan teman-temanku. Anggap saja ini hadiah,”

Mingyu menerima coklat itu dengan tangan yang bergetar. Itu adalah coklat pemberiannya untuk gadis itu dan sekarang gadis itu memberikan coklat itu padanya. Hei, ini seperti Nayeon mengembalikan coklatnya!

“Gumawo,” kata Mingyu akhirnya.

“Ya, Seokmin. Apa kau mau juga? Aku masih menyimpan satu di laci bawah meja, pemberian kemarin dan belum sempat aku bawa pulang ke rumah..”

“Tidak perlu. Aku tidak terlalu menyukainya, Nayeon,” jawab Seokmin sambil tersenyum.

“Oh baiklah kalau begitu.”

Nayeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi bingung lalu tersenyum simpul dan masuk ke dalam ruangan kelasnya yang ramai dengan percakapan.

Ya, Kim Mingyu! Dapat hadiah dari anak gadis lagi, huh?”

Wonwoo tiba-tiba datang dari arah belakang Mingyu dan merangkul lelaki itu dengan rangkulan sahabat yang erat.

“Eh? Itukan―” kalimat Wonwoo terputus ketika melihat sebatang coklat putih di tangan Mingyu. Itu coklat yang Mingyu beli untuk Nayeon kemarin! Ia masih ingat betul akan hal itu.

“Apa yang terjadi?” bisik Wonwoo.

“Tidak ada apa-apa,”

Ya, ayo kita ke lapangan sekarang, Mingyu. Lihat! Para penggemarmu ada di ujung sana, sedang menuju kemari.” Seokmin menunjuk kumpulan para yeoja yang berjalan dengan wajah riang ke arah mereka dengan dagunya yang lancip.

“Kim Mingyuuu!!”

“Oh, Mingyu-oppa, saranghae!”

“Huaaaa! Mingyu-oppa!”

Mingyu bergidik ngeri dan langsung berjalan meninggalkan lorong depan kelas 2-3 dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Ia tidak mau berurusan dengan para gadis labil yang tengah sibuk menyerukan namanya itu.

0o0

Ya, apa yang gadis itu sudah lakukan padamu? Daritadi kau hanya diam di sana dan memperhatikan coklat itu!”

Wonwoo melempar Mingyu yang tengah duduk di meja belajar dengan bantal. Mingyu menempelkan pipinya pada meja dan memainkan coklat putih ‘pemberian’ Nayeon di sekolah tadi. Lelaki itu sudah kehilangan binar matanya.

“Oh, ayolah. Aku sangat bosan sekarang. Suasana di kamarmu bahkan lebih menyeramkan dibanding sel tahanan,”

Yap, mereka berdua kini tengah berada di dalam kamar Mingyu: tempat terbaik bagi mereka untuk bermain sejak dulu. Semacam basecamp mereka. Dan kini, kamar Mingyu yang selalu diliputi canda tawa dari sepasang sahabat itu mendadak menjadi suram.

YA, KIM MINGYU! APA KAU TIDAK MAU MENCERITAKAN SESUATU YANG SUDAH MEMBUATMU MENJADI SEPERTI ORANG YANG TERKENA GANGGUAN JIWA INI PADA SAHABATMU SENDIRI, HUH?!” bentak Wonwoo.

Mingyu mengacak-ngacak rambutnya. Kesal. Lelaki itu menjadi pusing sendiri dengan apa yang ada di kepalanya kini.

“Bagaimana ini, Jeon Wonwoo?! Kau harus membantuku keluar dari zona ini!”

“Zona apa?”

Mingyu menghela napasnya. Berat sekali. Lalu dengan satu gerakan, ia memutar kursinya ke arah Wonwoo yang tengah duduk di atas kasurnya yang empuk sambil memegang sebuah bantal yang bisa Mingyu tebak adalah untuk menimpuk kepalanya lagi jika saja ia tidak menjawab perkataan Wonwoo barusan.

“Nayeon memberiku coklat yang kemarin kuletakkan di lokernya,”

“Lalu?”

“Apa itu artinya dia menolakku?”

Kali ini, Wonwoo yang menghela napas pilu melihat kondisi Mingyu yang menyedihkan di depannya.

“Kurasa dia pasti muak dengan semua coklat pemberianmu, bahkan tidak menutup kemungkinan kalau kau menyebabkan dia tidak menyukai coklat putih lagi. Jadi kurasa kau harus stop dulu dalam memberikan Nayeon coklat putih. Kau ingat ini bulan apa, kan? Buatkanlah dia coklat putih special pada hari valentine nanti dan berikan padanya! Jika kau benar-benar manly seperti yang para yeoja itu bicarakan, maka nyatakanlah perasaanmu padanya. Aku sudah tak tahan melihat kondisimu yang mengenaskan setiap kali bertemu dengan Nayeon.”

“Inilah dirimu, Jeon Wonwoo. Kau selalu memberikanku jalan keluar yang sangat susah untuk dilakukan,” timpal Mingyu sambil melipat tangan di depan dada. “Apa tidak ada yang lebih simple?”

Ya! Kau yang meminta jalan keluar padaku! Mau tidak mau ya harus terima!”

“Geundae, Wonwoo…”

Mingyu menurunkan tangannya dan menarik kursinya menjadi lebih dekat dengan kasur. Ekspresi wajah lelaki dengan gigi taring yang lucu itu mendadak berubah menjadi sangat serius. Matanya menatap Wonwoo dalam-dalam.

“Apa aku bisa melakukannya? Kau tahu, melihat Park Nayeon saja sudah cukup membuatku menjadi seperti seorang idiot yang baru pertama kali melihat indahnya dunia luar,”

“Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja, Mingyu” Wonwoo mendekat dan menepuk pundak Mingyu. Prihatin.

Mata Mingyu beralih ke arah kalender yang ada di meja belajarnya, mencari-cari tanggal 14 Februari dengan matanya yang jernih.

“Araseo. Kau harus membantuku menyiapkan semuanya untuk hari valentine mulai dari sekarang agar semuanya sempurna!”

“Mwo?!”

“Ayolah, Wonwoo. Kau harus membantu membuat coklat valentine untuk Park Nayeon-ku!” ucap Mingyu dengan nada memelas ala anak kecil sembari menarik-narik tangan Wonwoo.

Ya, apa-apaan kau ini? Kenapa aku harus repot-repot melakukannya?”

“Karena kau yang memberikan jalan keluar seperti itu. Mau tidak mau kau harus membantu sahabatmu ini! Apa kau mau melihatku terus-terusan menangis dalam diam di sudut kamar seperti orang yang terkena penyakit jiwa, huh?!”

Aih. Menyebalkan sekali kalau Mingyu sudah seperti ini. Dengan terpaksa, Wonwoo mengiyakan permintaan Mingyu meskipun ia bahkan tidak tahu bagaimana cara membuat coklat valentine.

“Apa bahan-bahan yang kita perlukan?”

Ya! Jadi kau sama sekali tidak tahu apa-apa?!”

Mingyu menyeringai sambil beringsut menutup lemari pendingin.

0o0

Dengan satu gerakan, Mingyu menarik pintu lokernya hingga terbuka dan menampakkan isinya yang penuh dengan coklat valentine entah dari siapa saja. Mingyu berdecak kesal lalu mengambil semua coklat itu lalu meletakkannya di atas meja.

“Dapat banyak seperti biasanya ya, Kim Mingyu?” goda Wonwoo melihat semua tumpukan coklat yang baru saja Mingyu keluarkan dari lokernya.

Wonwoo tengah memakan coklat dengan aneka bentuk yang ditata di dalam sebuah wadah berbentuk hati sekarang. Entah siapa gadis beruntung yang coklat pemberiannya di makan oleh Wonwoo.

Ya, kalian!” kata Mingyu memanggil beberapa orang gadis yang sedang berbicara satu sama lain di depan kelas. Apa lagi yang mereka bicarakan kalau bukan gosip terbaru yang ada di sekolah ini?

“Wae?” jawab salah satu dari mereka sambil memainkan rambutnya.

“Apa kalian mau semua coklat ini? Kalian bisa mengambil semuanya jika kalian mau,”

“Benarkah?!”

“Ya tentu saja, Oh Nameun. Itu lebih baik daripada aku buang semua, kan?”

Gadis-gadis itu menyeringai senang lalu berjalan mendekati meja Mingyu dan mengambil satu per satu coklat valentine itu lalu memakannya. Beberapa anak laki-laki juga tampak memakan coklat itu. Siapa yang tidak mau coklat gratis di hari valentine?

Ya, kau harus memberikan coklat itu pada Nayeon apapun yang terjadi! Aku sudah bersusah-payah membantumu membuatnya dan aku merasa terhina jika kau tidak memberikannya pada gadis itu!” kata Wonwoo memperingatkan lalu kembali memasukan coklat berbentuk seperti daun ke dalam mulutnya.

“Apa aku harus ke kelas 2-3 sekarang?”

“Apa yang kau katakan? Jelas kau harus ke sana sekarang! Ayo, pergilah sana sebelum si Nona manis gigi kelinci itu disambar elang lain,”

“Dia tidak bergigi kelinci!”

“Oh, ya. TIDAK BERGIGI KELINCI―terserah apa katamu―” kata Wonwoo menirukan intonasi suara Mingyu barusan. Well, itu benar. Park Nayeon adalah salah satu gadis bergigi seperti kelinci, tapi Mingyu selalu menyangkalnya. Tapi menurut Wonwoo, justru daya tarik Nayeon terletak pada gigi kelinci itu.

“Aku akan bertemu dengan Park Nayeon-ku dan menyatakan perasaanku yang sangat indah ini padanya sekarang juga. Bersiaplah, Wonwoo. Seorang Kim Mingyu bukan lagi seorang lelaki yang menyedihkan sekembalinya ia ke hadapanmu.”

Mingyu berjalan dengan langkah yang pasti ke luar kelas sambil membawa coklat putih spesial untuk Park Nayeon yang sudah ia dan Wonwoo buat susah-payah melalui berbagai macam percobaan ini dan itu. Wonwoo tertawa dalam hatinya. Ck, percaya diri sekali Mingyu kali ini…

Namun tak lama setelah itu, Mingyu berlari kecil menghampiri Wonwoo (lagi) dengan wajah yang memerah, melebihi udang rebus.

Daebak. Kau sudah menyatakan perasaanmu pada Nayeon?”

Mingyu menggeleng dan memperlihatkan coklat buatan mereka masih ia pegang.

“Aku malu bertemu dengannya―” ucapnya sambil menutupi wajahnya yang lucu karena memerah dengan kedua tangannya.

Wonwoo hanya bisa memutar bola matanya melihat tingkah Mingyu yang berdiri dengan wajah tersipu di depannya. Di dalam dadanya muncul satu pertanyaan: sampai kapan Mingyu akan terus memendam perasaannya?

Mata Wonwoo menangkap sosok gadis berambut coklat terang di depan kelasnya: Park Nayeon. Gadis itu tengah memberi seorang anak laki-laki coklat valentine yang dibungkus dengan cantik. Wajah Nayeon berubah menjadi kemerahan. Hong Jisoo―nama lelaki itu―menerima coklat valentine Nayeon dengan senyuman manis di wajahnya yang rupawan.

Wonwoo buru-buru mengalihkan topik pembicaraan mereka ―Mingyu tidak boleh melihat kejadian ‘dramatis’ yang sedang terjadi di depan kelas mereka. Karena ia tahu apa yang akan Mingyu alami jika melihat Nayeon memberi coklat valentine pada Jisoo.

“Wonwoo, dia tidak menyukaiku kan?” kata Mingyu dengan tawa getir yang menyertai kalimatnya.

-FIN-

 

Entahlah ceritanya nyambung atau enggak, yang jelas Happy Reading! ^^

-Andelluhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s